Lagi-lagi Masalah BBM
Kemaren pemerintah resmi manaikkan harga BBM. Berapapun kenaikannya, jelas beban masyarakat bertambah.
Banyak yang bilang bahwa kenaikan harga BBM gak bisa dihindari lagi untuk nyelamatin nafas negara ini, yang awalnya karena kenaikan harga minyak dunia. Aku gak ngerti masalah ginian, gak terlalu ngikutin.
Beberapa kalangan menilai naiknya harga BBM di Indonesia masih wajar-wajar saja. Bandingkan dengan negara lain yang jauh lebih mahal. Di India contohnya, kalo dirupiahin sekitar 13ribu. Bahkan di negara Eropa mencapai 20an ribu. Jadi mereka menilai pemerintah udah cukup baik karena naiknya gak “nemen-nemen” amat.
Sebenernya aku ga ngerti permasalahan ekonomi kayak gini. Tapi logikanya gini deh. Indonesia kan negara penghasil minyak yang cukup besar. Sangat besar malahan. Harusnya kalo harga minyak dunia meningkat, kan negara jadi untung dong, karena kita juga ngekspor ke negara lain (kan Indonesia termasuk negara pengeksport minyak). Harusnya Indonesia kayak Rusia, yang berbahagia dengan kenaikan harga minyak mentah. Nah, kok sekarang jadi begini??
Program Bantuan Langsung Tunai yang diberikan pemerintah untuk masyarakat miskin sepertinya cuman alat buat meredam amuk masyarakat miskin yang pada dasarnya emang gak diperhatiin pemerintah. Biar pemerintah dinilai baik, jadi masyarakat miskin dikasi BLT yang katanya alihan dari subsidi BBM yang dipotong. Nilainya gak seberapa (kalo ga salah 100ribuan per bulan) dibandingkan kenaikan harga-harga kebutuhan akibat naiknya harga BBM.
Pemerintah ngomongnya gini, daripada subsidi diberikan kepada orang mampu yang mbeli BBM buat kendaraannya, mending subsidinya diberikan langsung ke masyarakat miskin, langsung mengena. Sekali lagi pemerintah bermain kata-kata untuk bodoh-bodohin rakyat. Oke lah, mereka yang dinilai miskin dapet 100ribu. Kenaikan harga kebutuhan bakal naik melebihi BLT itu, sama juga boong!
BLT menurutku ga lebih dari alat untuk “nyuap” masyarakat miskin. Mereka yang emang miskin pasti nerima deh uang segitu. Bukannya ngeremehin mereka bahwa mereka bisa dibodoh-bodohin. Mereka pasti udah pasrah juga, pemerintah naikin harga BBM, harga barang naik. Daripada anak-anaknya mati kelaperan, mending nerima BLT kan? Tapi menurutku program BLT ini bener-bener menginjak-injak harga diri mereka. Mereka gak pantas digituin oleh pejabat negara yang mereka pilih!
In my opinion, masalahnya bukan tentang menyelamatkan negara dari kebangkrutan. Harusnya pemerintah lebih fokus kepada bagaimana caranya biar negara gak makin miskin karena naiknya harga minyak mentah dunia. Kita punya minyak yang banyak banget. Hanya saja karena dikelola oleh perusaan asing semua, jadinya kekayaan itu pergi ke luar negeri.
Perusahaan minyak sejenin chevron itu pastinya dapet untung gede dong, makanya mereka mau ambil proyek minyak di Indonesia. Bayangin kalo keuntungan yang gede itu semuanya pindah ke kas negara. Negara gak bakal meriang gini pas tau harga minyak dunia naik. Biarin naik, wong kita pake minyak punya kita sendiri!
Kalo pemerintah ngasi alasan SDM (kalo mbahas isu kemandirian nyedot dan ngolah minyak), pemerintah bener-bener menghina bangsa ini. Percuma ada banyak ahli, banyak perguruan tinggi yang ada jurusan pertambangannya. Percuma bangsa ini diberi pendidikan yang mahal. Ada yang bilang mental pemerintah itu mental makelar, yang gak berani (atau malas????) ngolah sendiri minyak yang ada.
Menurutku ga ada jalan lain. Pemerintah harus berani ngambil alih perusahaan minyak asing, dan nyedot serta ngolah minyak sendiri, dengan perusahaan negara sebagai pelaksananya. Jangan dikasi ke tangan swasta, apalagi asing. Bukankah bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya diKUASAI oleh negara dan dipergunakan untuk SEBESAR-BESARNYA KEMAKMURAN RAKYAT??????
Kalo ga begitu, penderitaan masyarakat miskin bakal menjadi-jadi. Dan mereka mati karena kebijakan pemimpin yang mereka pilih sendiri dalam PEMILU. Ironis banget….