Ayat-ayat Cinta the Movie

Oke… oke.. aku emang telat ngasih komentar ke film satu ini. Maklum dong, situasi gak memungkinkan buat nonton film ini sesegera mungkin.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap pihak-pihak yang mbuat film itu,  aku menilai film itu jauuuuuuuuh banget dari novelnya, terlebih lagi dari isi-isi yang terkandung di dalam novelnya. Jujur aja aku kecewa sama filmnya.

Oke, aku bahas bagian-bagian yang bikin aku kecewa dengan film itu, boleh dong ngasi pendapat :

  1. Di awal film, Maria terlihat santai sekali menggunakan komputer di flat Fahri. Hal yang mungkin tidak akan terpikirkan oleh penulis novel bahwa adegan itu bakal ada. Maria, Fahri dan teman-teman serumah seakan-akan menjadi teman nongkrong bareng.
  2. Beberapa adegan memperlihatkan Fahri berduaan dengan Maria. Mulai dari deket kampus sampe di jembatan. Karakter Fahri di novel gak mungkin melakukan itu.
  3. Sebelum menikah dengan Fahri, cara ngomong Aisha lembut gitu, nadanya agak-agak menggoda gitu. Dalam novel, Aisha itu tokoh yang agamanya kuat. Perempuan yang taat gak bakal ngomong dengan cara kayak gitu kepada mahramnya.
  4. Judesnya Aisha terhadap Fahri bener-bener bertentangan dengan novelnya. Sampe-sampe Aisha ngomong gini, “Ya udah. Tinggal di flat murah juga gak apa2. Gak pake mobil juga ga apa2. ” (dengan nada sinis). Istri sholehah macam apa itu???
  5. Ucapan pengacara yang seakan-akan menyalahkan ta’aruf sebagai hal yang mengakibatkan calon pengantin tidak saling mengenal. Trus, reaksi Aisha juga menggambarkan bahwa dia memang tidak mengenal Fahri dengan baik. Sampe mengobrak-abrik buku-bukunya Fahri. Aisha versi novel gak gitu deh..
  6. Di bagian akhir film, diperlihatkan kehidupan rumah tangga yang berpoligami dengan menonjolkan sisi cemburu-cemburuan. Para pembuat film itu kayaknya anti-poligami deh.

Oke, segitu aja. Ada yang mau nambahin keganjilan film itu?

2 Tanggapan ke “Ayat-ayat Cinta the Movie”

  1. isa Berkata

    Nambah satu lagi. Ttp ini keanehan di novel juga. Kenapa kok, maria digambarkan meninggal dan masuk surga (bahkan sempat sadar utk wudhu’ dan mengucap syahadat). Apa iya bisa langsung surga? Bukannya semua makhluk masih menunggu hari pembalasan, setelah dihisab baru bisa masuk surga?

  2. meijiideawan Berkata

    Hmm.. nice point, Sa.
    Aku juga gak tau kalo yang masalah itu. Tapi yang jelas hidayah datangnya bisa kapan aja kan? :)

Tinggalkan Balasan